Ibu Saya Benci Wanita

Ibu saya seorang wanita yang sangat wanita. Dulu Ibu tinggal dalam keluarga yang benar-benar mendidiknya menjadi seorang wanita. Baju sehari-harinya adalah rok, blus, atau gaun. Hingga SMA, Ibu sama sekali tidak punya celana jeans ataupun kaos yang jaman itu sedang menjadi trend.

Ibu saya seorang wanita yang sangat wanita. Ibu saya pandai sekali memasak. Ibu sudah bisa memasak sejak SMP. Aku suka masakan Ibu dan aku ingin bisa memasak seperti Ibu.

Ibu saya seorang wanita yang sangat wanita.Ibu juga pandai menjahit. Beliau biasa menjahit baju-bajunya sendiri, bajuku dan baju adikku. Baju buatan Ibu sangat pas saat kugunakan.  Aku suka baju buatan Ibu dan aku ingin bisa menjahit seperti Ibu.

Ibu saya seorang wanita yang sangat wanita. Ibu memiliki paras muka yang cantik, halus dan sangat keibuan. Ibu sering dipanggil ‘Bunda’ oleh teman-teman kuliahnya karena sikapnya dan parasnya yang keibuan itu. Aku suka sikap keibuan Ibu dan aku ingin memiliki sikap keibuan seperti Ibu.

Ibu saya benci wanita. Saya tahu, Ibu sangat sayang padaku.  Ibu mendidikku menjadi anak lelaki. Sewaktu kecil, Ibu memotong rambutku seperti laki-laki. Ibu tidak pernah mengajari tentang mandi yang bersih. Ibu tidak pernah melarangku untuk memanjat pohon, berlarian di sawah, mengejar layangan, yang akhirnya selalu beroleh-oleh luka-luka di badan. Sehingga saya tumbuh menjadi anak kecil yang bandel dan dekil.

Ibu saya benci wanita. Ibu saya menentang ketika tahu saya masuk ekskul cheerleader. Ibu mati-matian menyuruhku ikut ekskul karate. Saya mati-matian mengikuti karate yang sangat menghabiskan tenagaku dan menghitamkan kulitku. Sehingga saya tumbuh menjadi remaja putri dengan otot seperti lelaki.

Ibu saya benci wanita. Saya berulang kali meminta Ibu untuk diajarkan memasak dan menjahit. Tapi Ibu selalu tidak mau. Ibu saya tidak ingin saya menjadi wanita.

Ibu saya benci wanita. Ibu selalu mewanti-wanti saya untuk menikah di atas umur 30 tahun. Ibu berkata bahwa menikah itu tidak penting. Ibu berkata bahwa setelah menikah, wanita hanya menjadi budak para pria. Dan Ibu tidak mau saya menjadi seperti itu.

Ibu saya benci wanita. Ibu memiliki dua standar yang berbeda dalam mendidik anak-anaknya. Anak perempuannya dikenai standard yang lebih tinggi daripada anak lelakinya. Bahkan, pekerjaan-pekerjaan rumah yang berat pun dilimpahkan pada anak perempuannya.

Ibu, sudah cukup saya menjadi anak kecil yang bandel dan dekil. Sudah cukup saya menjadi remaja putri dengan otot seperti lelaki. Saya ingin menjadi wanita yang sangat wanita seperti Ibu. Apakah itu keputusan yang salah? Saya sangat menyukai kehidupan saya sebagai wanita bu, bukan sebagai lelaki. Bu, saya sudah berumur 25 tahun, dan saya telah memiliki calon suami yang sangat saya cintai. Mengapa Ibu tidak setuju dengan pilihan saya? Satu bulan lagi saya akan menikah. Sekarang ini saya sedang mengikuti kursus memasak dan menjahit. Maaf jika dalam beberapa tahun terakhir ini saya tidak bisa mengikuti keinginan Ibu. Saya ingin menjadi wanita bu.

4 thoughts on “Ibu Saya Benci Wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s