Saya Seorang Pelukis

Saya adalah seorang pelukis. Saya tinggal di Br. Silungan Lodtunduh Ubud – Bali. Inspirasi dari lukisan-lukisan saya adalah sesajen. Kebetulan ibu saya adalah seorang pembuat sesajen handal. Sesajen itu bisa berupa canang sari ataupun gebokan. Mengapa saya memilih melukis canang sari? Karena canang sari merupakan salah satu perwujudan cinta kasih dan rasa terimakasih manusia kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bentuknya, warnanya, sungguh indah. Project lukisan saya kali ini adalah ibu saya ketika membuat canang sari.

Sudah dua minggu, kanvas di bale itu masih tetap putih. Ibu bertanya “Gek, kok gak cepet diselesaikan aja lukisannya?”. Pikiran saya lalu melayang, bagaimana saya bisa melukis Ibu, Ibu selalu sibuk. Saya jarang bertemu beliau. Ibu bangun jam 3 pagi ketika saya belum bangun. Dan ketika saya bangun, ibu pasti sudah ke pasar ubud, menjaga toko seninya hingga sore. Di sore hari hingga malam, ibu membuat aneka sesajen untuk sehari-hari maupun pesanan dari kerabat. Sedangkan di sore hari, entah kenapa selalu saja ada ajakan teman untuk membantunya menjadi tourist guide yang akhirnya membuat saya terlena dan tidak mengerjakan project lukisan saya.

Suatu hari, hal buruk terjadi. Ibu sakit keras dan dirawat di rumah sakit. Saya yang menemani Ibu di rumah sakit. Saya akhirnya melihat dengan jelas kerut di tangan, dahi, dan matanya. Mata teduhnya dan rambut ikalnya. Saya memutuskan untuk membawa kanvas saya ke rumah sakit hari itu. Saya melukis ibu saya di Rumah Sakit.  Setiap detail wajah ibuku, tangannya yang mulai keriput, keelokan janur yang sedang disemat, saya lukis di bangsal itu. Baru kali itu, saya melukis dengan sangat telaten, karena saya berpikir bahwa saya nyaris kehilangan Ibu.  Beberapa hari kemudian, kondisi Ibu membaik. Ibu sudah tersenyum. Saya tuangkan senyum indahnya dalam kanvas itu.

Saya seorang pelukis, tinggal di sebuah keluarga seni yang sederhana. Kesederhanaan inilah yang membuatku bahagia. Cukuplah dengan menghirup udara Ubud, memandang keindahan alamnya, melakukan ritual sembahyang tiap hari, saya sangat bahagia. Uang bukanlah sesuatu yang merepresentasikan hasil karyaku. Namun perjalananku dalam menyelesaikannya yang merepresentasikan karyaku. Biarlah orang menguangkan lukisan saya dengan harga yang rendah, karena mereka tidak tahu bagaimana perjalanan saya untuk menyelesaikannya. Uang bukan segalanya untuk saya, perjuangan untuk menyelesaikannya adalah segalanya untuk saya.

4 thoughts on “Saya Seorang Pelukis

  1. ngobrol soal process, emg terkenal lama tp justru itu yg bs dinikmati, hasilny jg lebih memuaskan drpada yg singkat , kepuasan bathin berbonus plus plus (^_^)…
    keep moving all..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s